Friday, April 28, 2006

Pers Gosip Ala Gambir

sedikit catatan dari perjalanan pulang....

--------

Menuruni tangga di Stasiun Gambir berarti melihat isi kepala berbagai macam manusia yang tengah terduduk di sana sambil menunggu Parahyangan tiba; bapak tua, nyonya setengah baya juga pemuda tanggung seumuranku. Mari menebak isi kepala mereka saat aku melintas di dekatnya. Tahu dari mana? Lihat saja halaman bacaan yang terpasang tiga puluh sentimeter di depan hidung mereka masing-masing.

Bapak tua sedang mencermati kondisi politik dalam negeri, menongkrongi prediksi nama-nama calon pasangan Bapak Presiden pada Pemilu yang akan datang. Mungkin si bapak tengah menimbang posisi yang mennguntungkan karena beliau adalah salah seorang pengambil keputusan strategis di pengurus partai politik nasional di cabang kelurahan.

Nyonya setengah baya tengah menekuni berita keretakan dua artis penyanyi, konon kabarnya hubungan mereka tengah diguncang oleh pesan singkat berisi hasutan mengadu domba. Berita ini jelas akan jadi komoditas utama acara ‘Bergosip Bersama Keluarga Yang Pasti Tidak Produktif’, salah satu sesi dalam kegiatan kunjungan keluarga ke Bandung kali ini.

Sementara dua orang pertama berkutat di selit-belitnya kehidupan dalam negeri, sang Pemuda terbang jauh meninggalkan batas-batas negara ini. Jauh, hingga ke Ranah Matador sana. Matanya memelototi satu halaman baris-baris berita dengan tampang kecewa, mungkin hatinya tengah terkoyak karena sang bintang pujaan konon katanya tak dapat merumput pada perhelatan Piala Dunia kali ini.

Tulisan di atas terlalu sinis? Bisa jadi. Terlalu hiperbolis? Bisa juga. Saya bukan paranormal yang sudah mutih selama empat puluh hari yang bisa mengetahui isi kepala manusia hanya dari bacaannya. Lalu? Yang saya tahu hanya isi bacaan mereka. Lho, maksudnya?

Era kebebasan pers yang kencang berembus sejak genderang bernama reformasi ditabuh melahirkan pers yang kebablasan. Masyarakat kita disuguhi ratusan, bahkan ribuan, media cetak yang berebut menyerbu pasar. Tepat jika disebut ibarat cendawan di musim hujan. Namun ternyata kualitas para cendawan baru tidak mampu mengimbangi kuantitas mereka yang banyak.

Para cendawan itu pun mati satu persatu, mati tergerus pasar yang lapar namun kejam. Kalaupun ada cendawan yang bertahan, dia hanya mampu menjadi figuran di kios koran. Itupun hidup segan mati tak mau, tinggal ‘Menghitung Hari’ bersama Krisdayanti.

Tidak semua cendawan bernasib seburuk teman-temannya. Ada beberapa cendawan yang mampu menancapkan hifa-hifanya hingga mengakar ke dalam pasar mereka. Bukan berarti para cendawan yang bertahan ini lebih baik dibanding mereka yang hilang, mereka yang bertahan adalah yang mau mengikuti selera pasar. Tulisan yang hot, khas gosip yang digosok makin sip.

Celakanya, sekarang semua sudah serba campur aduk. Reportase di sebuah koran pun bisa jadi lebih ‘gosip’ dibanding berita di tabloid gosip sekalipun. Gosip maksudnya berita yang serba kira-kira yang belum jelas kebenarannya namun sudah dibawa ke hadapan pasar. Ditambahi pula dengan bumbu-bumbu penyedap yang membuat cendawan jenis gosip tadi makin wangi lantas laku dikerubuti penikmatnya.

Pantas barangkali jika pelaku pers yang demikian disebut pelaku pers gosip. Mari bermain anagram, jika frase ‘pers gosip’ dibalik akan menjadi ‘gosip pers’. Jika kata tadi dilafalkan dengan lidah Indonesia saya, ‘gosip pers’ lama kelamaan akan menjadi ‘gossipers’. Nah lho?!?!
Cendawan memang hanya tanaman yang tak mampu menandingi para kayu sejati yang mampu mengakar hingga puluhan tahun, tetapi seleksi alam akan membawakan kita cendawan mutasi yang kuat dan mempunyai integritas dan keyakinan untuk memperbaiki keadaan yang ada. Mencerdaskan dan membangun karakter pasarnya (baca: masyarakat).

Berlebihan jika harapan mencerdaskan dan membangun tadi saya tumpukan pada segerombol cendawan di tumpukan kayu lapuk di depan rumah, tetapi harapan saya itu tidak kosong jika saya amanahkan pada insan pers sesungguhnya. Insan pers adalah jabatan adiluhung, posisi sentral yang bertugas menghubungkan antara masyarakat dan tokoh publik. Penyambung lidah rakyat sudah seharusnya berhenti berdebat kusir tentang majalah anak lelaki yang gemar bermain(PL****Y).

Langkah kaki saya menuruni tangga stasiun Gambir mengantarkan saya pada udara Jakarta yang panas. Ternyata matahari kini tak ramah lagi, selalu menggelontorkan panas berjuta kalori sampai ke bumi. Sebulir keringat menuruni tengkuk saya yang memerah. Akhir kata, walaupun bukan dalam euforia Hari Pers Nasional, tidak ada salahnya jika saya menyelamati pers Indonesia. Selamat berjuang dan bersuara lewat kata. Tabik!

Comments:
nyoba nulis ala kolom opini gitu...hehe...commentsnya dong...
 
Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?